Sab. Apr 4th, 2020

Membangun Asa Domestikasi Maleo

Donggi Senoro LNG bekerjasama dengan BKSDA melepasliarkan anakan Maleo pada 25 April 2019 lalu. FOTO/HARIS LADICI

“Belum bisa dikunjungi, lokasinya masih berantakan dan dibenahi. Proses renovasinya, kemungkinan selesai enam bulan mendatang,” kata Doty Damayanti, External Communication Supervisor PT Donggi Senoro LNG saat wartawan koran ini meminta izin untuk melihat (sekali lagi) Maleo Center, akhir pekan lalu.

Laporan: Haris Ladici

Sejak pelepasliaran Maleo 25 April lalu, informasi tentang renovasi Maleo Center Donggi Senoro itu telah sampai di media. Informasi itu sesuai dengan pernyataan Pandit Pranggana, Manager CSR Donggi Senoro LNG yang mengkonfirmasi bahwa perusahaan tersebut akan merenovasi kandang Maleo.

Rasa penasaran bertambah setelah melihat Maleo sebatang kara di Taman Margasatwa Ragunan. Hal itu menjadi perbandingan dengan kondisi Maleo yang berada di kandang konservasi ex situ PT Donggi Senoro LNG yang jauh lebih beruntung. Di kandang konservasi, Maleo tidak hanya dijadikan objek penelitian tetapi juga dikembangbiakkan.

Pandit, menjelaskan bahwa renovasi maleo center sejalan dengan semangat DSLNG melepasliarkan F1 Maleo. Sehingga upaya pelestarian Maleo tidak sekadar mengembangbiakkan telur sitaan BKSDA melalui inkubator seperti yang selama ini dilakukan. Tetapi mencakup upaya pengembangbiakkan generasi kedua Maleo, hasil penetasan telur sitaan BKSDA.

“F1 adalah generasi kedua. Sedang F0 adalah telur sitaan yang ditetaskan melalui inkubator, dipelihara dalam kandang dan tidak dilepasliarkan. Ketika bertelur lagi, anakannya menjadi F1,” terangnya.

Amatan Luwuk Post, sejauh ini upaya konservasi ex situ memang lebih pada penyelamatan telur di alam bebas. Telur-telur sitaan BKSDA ditetaskan melalui inkubator. Lalu saat Maleo berumur dua atau tiga bulan, dilepaskanliarkan ke habitatnya di kawasan Margasatwa Bakiriang. Lainnya dipelihara dan diteliti dalam kandang.

Upaya DSLNG ini sangat berhasil. Sebab berdasar data, ada Maleo yang berhasil kawin, bertelur dan kemudian menetas dalam kandang. Tetapi, karena kondisi kandang yang belum mirip dengan habitat aslinya, menjadikan pengembangbiakkan telur belum masif.

Hal senada disampaikan Rahmad Azis, Media Relation Officer Donggi Senoro LNG. Maleo yang berhasil kawin dan telurnya menetas dalam kandang adalah bagian dari kelompok Maleo yang dilepasliarkan di Moilong, Senin 7 Oktober 2013 silam. Beberapa anakan Maleo memang tidak dilepas, tetapi “dipelihara” dan dipelajari dalam kandang. Butuh waktu tahunan hingga Maleo tumbuh besar dan matang secara seksual. Maleo itu kemudian kawin, bertelur dan menetaskan telurnya.

“Maleo di Maleo Center itu sudah pernah kawin dan menetas. Ini membuktikan bahwa konservasi ex situ bisa melahirkan F1,” katanya.
Berangkat dari keberhasilan itu, maka upaya renovasi kandang pun dilakukan. Memperbaiki mekanisme konservasi dengan lebih detail, termasuk melakukan pencatatan yang baik.

Pandit, menjelaskan, renovasi Maleo Center menjadi replika dari kondisi alam Maleo dilakukan dengan semangat untuk membuat lokasi konvervasi yang benar-benar mirip habitat aslinya. Seperti mengusahakan pasir tempat bertelur yang akan dibuat dengan kedalaman satu meter.

Jika rampung akhir tahun nanti, Maleo Center dengan desain kubah setengah lingkaran itu akan menjadi tempat yang sangat terintegrasi.
Ada ruang teater yang nantinya menjadi tempat untuk belajar tentang lingkungan bagi pelajar, mahasiswa dan masyarakat. Utamanya segala hal terkait konservasi Maleo.

“Ke depan akan menjadi lokasi bagi masyarakat untuk berkumpul dan menggelar kegiatan sosial. Harapannya, Maleo Center bisa menjadi lokasi wisata edukatif bagi masyarakat sekitarnya,” tuturnya, saat ditemui terpisah.

Dari upaya sungguh-sungguh membangun pusat konservasi ex situ itu, wartawan koran ini melihat harapan Donggi Senoro LNG dan peneliti Maleo dari Universitas Tadulako Palu, Dr. Mobius Tanari, untuk memulihkan populasi maleo bakal mudah direalisasikan. Bahkan, mungkin saja, asa domestikasi Maleo bukan sekadar mimpi.

MASKOT SULTENG

Jauh sebelum beroperasi dan diresmikan Presiden RI, Joko Widodo pada 2 Agustus 2015, Donggi Senoro LNG, perusahaan multi nasional yang mengolah gas alam cair di Kecamatan Batui, sudah menaruh perhatian penuh terhadap pelestarian Maleo.

Bekerja sama dengan BKSDA Sulteng, Donggi Senoro LNG intensif melakukan usaha pelestarian Maleo, melalui konservasi ex situ yang diresmikan pada hari lingkungan hidup, 5 Juni 2013.

Kerja sama tersebut telah berlangsung selama kurang lebih enam tahun. Dalam kurun waktu tersebut, Donggi Senoro LNG sudah lima kali melakukan pelepasliaran Maleo dengan total 98 ekor anakan. Maleo yang dilepasliarkan adalah hasil dari telur-telur sitaan yang diserahkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah kepada Maleo Center sejak kerja sama dimulai April 2013 silam. Dalam setahun ini, telah dilakukan dua kali pelepasliaran di Suaka Margasatwa Bakiriang.

Pelepasliaran Maleo merupakan salah satu aksi konservasi yang bertujuan untuk mengembalikan sejumlah jenis satwa ke habitat alaminya. Di habitat alaminya, populasi diharapkan dapat berkembang biak tanpa gangguan. Dalam upaya pelestarian Maleo, Donggi Senoro LNG, melakukan beberapa tahapan untuk anakan Maleo. Dimulai dari penyelamatan telur–telur, proses penetasan, dan pelestarian anakan, hingga siap dilepasliarkan ke habitat alaminya.

Maleo adalah jenis burung khas daratan Sulawesi, yang hanya hidup di tempat tertentu. Kecenderungan Maleo untuk berkembang biak pada kondisi tanah dengan kandungan panas bumi ini yang membuat populasinya hanya ada di Indonesia Timur. Sejarah geologi Sulawesi yang berhubungan dengan lempeng Pasifik atau Australia adalah satu hal yang menyebabkan habitat alami Maleo tersebar di Sulawesi Tengah dan Utara.

Keberadaan populasi Maleo diketahui terbanyak di Sulawesi Tengah. Sehingganya sejak dulu, Maleo telah menjadi kebanggaan Sulawesi Tengah. Bahkan pada Tahun 1990, Maleo menjadi maskot Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan keputusan Gubernur Sulawesi Tengah Nomor: Kep.188.44/1067/RO/BKLH tanggal 24 Februari 1990.

Maleo memiliki banyak perbedaan serta keunikan tersendiri dengan jenis burung lainnya. Ciri khasnya terletak pada fisik kepala yang memiliki tonjolan besar. Mahkota Maleo itu memiliki fungsi untuk mendeteksi panas di satu tempat, yang memungkinkan ia hidup dan berproduksi dengan aman.

Pada tempat itulah, betina Maleo meletakkan telur dan menguburnya. Sifat tanah yang berpasir memudahkan anakan Maleo menerobos ke permukaan tanah. Keunikan strategi hidup Maleo, ditandai dengan memendam satu telurnya dalam pasir. Telur berukuran 5 kali lebih besar dari telur ayam itu ditinggalkan dalam pasir hingga menetas sendiri.

Maleo dikenal sebagai satwa anti poligami. Sebuah keunikan yang tidak ditemukan pada jenis burung lainnya.

Sejak tahun 1990, oleh Pemerintah Republik Indonesia dan dunia, populasi Maleo di alam diakui mengalami penurunan drastis. Masyarakat global pun tergerak dengan mengategorikan Maleo ke dalam IUCN (International Union for The Conservation of Nature and Natural Resources) Red List, sebagai jenis burung yang terancam punah. Dalam dunia perdagangan satwa, Maleo termasuk dalam Cites Appendix 1, sehingga dilarang diperdagangkan.

Untuk melestarikan Maleo, pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Di mana jenis satwa yang dilindungi seperti Maleo, wajib dilakukan upaya pengawetan. Dalam periode tahun 2015-2019, pemerintah sudah menetapkan Maleo sebagai salah satu jenis satwa yang harus ditingkatkan populasinya. Peningkatan populasi Maleo sebesar 10 persen, untuk menjamin efektivitas upaya konservasi dan genetik.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Tengah, Ir. Hasmuni Hasmar, MSi, mengatakan, pelepasliaran Maleo yang bekerja sama dengan Donggi Senoro LNG ini masih dalam tahapan menengah menuju kelestarian populasi. Pun begitu, keberhasilan usaha penangkaran ex situ, telah mengeluarkan sumber daya yang tak sedikit. Mulai dari tenaga, pikiran hingga biaya.

Sumber daya tersebut telah dikeluarkan untuk tindakan pengumpulan dan pengamanan telur-telur Maleo. Serta tentunya tindakan pemeliharaan anakan Maleo di kandang penangkaran yang mencakup penyediaan pakan, obat obatan dan biaya pemeliharan.
Ia juga menjelaskan, pelaksanaan pelepasliaran telah memenuhi kaidah konservasi. Salah satunya kesehatan satwa untuk siap hidup di alam liar dan bergabung dengan maleo lainnya di SM Bakiriang.

Persiapan habitatnya pun harus aman dari gangguan satwa predator dan perburuan liar.

Selain itu, terjaminnya ketersediaan unsur habitat alami seperti pepohonan yang menyediakan tanaman pakan, serta tempat berlindung dan sumber air. Usaha konservasi ini telah melalui berbagai tahapan, di antaranya perlindungan di habitat aslinya dan monitoring perkembang biakannya. “Lestari Maleo akan menjadi sumbangsih masyarakat dan pemerintah sekarang bagi generasi berikutnya,” kata Hasmuni, pada pelepasliaran Maleo, Kamis, 25 April 2019 lalu. (*)

error: Content is protected !!