Sel. Apr 7th, 2020

Kacab Disdikbud V Jangan Diam, Soal Tiga Sekolah di Balut yang Dipimpin Satu Kepsek

ILUSTRASI SEKOLAH

SultimNews.id, BANGGAI-Mencuatnya tiga Sekolah Menengah Kejuruan yang dipimpin satu kepala sekolah dinilai menjadi kecelakaan di dunia pendidikan. Kabar ini mestinya segera direspons Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Sulawesi Tengah.

Salah seorang warga Kecamatan Bokan Kepulauan, Ikbal, memastikan proses belajar mengajar tidak akan maksimal. Sebab, satu sekolah yang dipimpin satu kepala sekolah saja terkadang kurang efektif, apalagi tiga sekolah. “Apalagi tiga sekolah itu terletak di pulau yang berbeda. Ke sekolah lainnya harus naik perahu lagi,”  uajr dia.

Tiga SMK itu tersebar di Desa Kaukes, Minanga, dan Desa Mandel. Tiga sekolah ini dipimpin oleh satu kepala sekolah yang berada di sekolah induk yang terletak di Kaukes. Sehingga wajar saja jika kepala sekolah yang hanya lebih banyak di Desa Kaukes kesulitan memaksimalkan dua sekolah lainnya. “Menyeberang ke sekolah yang di pulau lain memakan waktu, beruntung kalau laut bersahabat,” katanya.

Karena itu, dia mendesak Kepala Cabang (Kacab) Disdikbud Sulawesi Tengah Wilayah V yang membawahi Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut mencari solusi atas masalah yang sudah berlangsung bertahun-tahun itu. “Kasian siswa/siswa di sana, ini menyangkut masa depan mereka,” ujar dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala SMA Negeri 1 Banggai Laanaluha Lahamente ikut prihatin atas kondisi itu. Sebab, aktivitas belajar mengajar di SMK 1 Bokan Kepulauan Cabang Minanga dan Mandel terbengkalai, karena kekurangan guru. “Siswa itu terlantar yang tidak diurus karena tidak ada gurunya,” ujar Laanaluha ikut prihatin.

Secara geografis berada di pulau terpisah. Sehingga dewan guru harus menggunakan perahu mesin ketinting. Itu pun bergantung cuaca dan tidak bisa setiap harinya. “Saya saja layani satu sekolah belum maksimal, apalagi ini melintas jalur air,” katanya.

SMK 1 Bokan Kepulauan Cabang Minanga diresmikan oleh Sekprov Sulteng Hidayat Lamakarate. Namun, setelah beroperasi sekolah ini tak lagi mendapat perhatian dari sisi pemenuhan tenaga pengajar. Laanuha menilai, pada perguruan tinggi, membuka cabang luar daerah tidak bisa lagi. Hal ini terjadi pada dua kampus di Luwuk, Kabupaten Banggai yang membuka kelas jauh di Banggai, Kabupaten Banggai Laut. “Saya tahu ada SMK di Minanga dari siswa saya dari sini yang pindah ke Minanga,” ucapnya. (ali)

error: Content is protected !!