Mon. May 25th, 2020

Dari Dapur ke Dapur Distribusi Bantuan

SALURKAN BANTUAN: Syahamuddin Sulahi saat menyalurkan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Aksi sosial ini mendapat apresiasi dari banyak pihak. [Foto: Istimewa]

SultimNews.id, BALUT-Saban hari, Syahamuddin Sulahi gelisah melihat perkembangan wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Ia bukanlah tenaga medis yang bisa ikut berjibaku di bidang kesehatan masyarakat.

Akhirnya, pria yang akrab disapa Udin Karo-karo itu, memilih bergerak secara sosial. Ia menyumbangkan bahan pokok kepada orang di sekitarnya yang membutuhkan. “Saya mulai lokal, sekitar rumah,” ucap dia, kemarin.

Kemudian ia mencoba perluas dengan meminta alumni SMP Negeri 1 Banggai tahun 1992 untuk ikut berdonasi. “Saya coba gali teman-teman untuk kita membantu sesama,” katanya.

Setelah dana terkumpul, alumni sekolah ini menyebar membagikan bantuan. Udin sendiri menyasar Kecamatan Banggai dan Banggai Utara, ada juga yang bergerak ke Kecamatan Banggai Selatan. “Kebetulan kenapa saya bergerak sendiri, ada dana-dana yang keluar dari donator,” tuturnya.

Gerakannya viral di media sosial Facebook. Donatur datang dari berbagai kalangan. Ada dari KPU Banggai Laut, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, kemudian kenalannya yang berasal dari beberapa kota di antaranya Manado Jayapura, dan Jakarta. “Saya tidak memengaruhi, saya buat video-video saya dan mereka menghubungi saya langsung,” katanya.

Bahkan, istrinya ikut mendonasikan dana umrah yang batal. Kemudian bantuan itu disalurkan secara bertahap kepada mereka yang membutuhkan. “Karena wabah ini kita tidak tahu kapan berakhir,” jelasnya.

Hingga saat ini, Udin telah mendistribusikan sekitar 400 bahan pokok yang tersebar pada empat kecamatan. Selain itu, ada bahan bakar minyak yang dibagikan kepada ojek dan nelayan tradisional. “Kalau pribadi tidak,” ucap dia.

Awalnya, kata dia, penyaluran bahan pokok dilakukan dengan sepeda motor. Sebab, mudah bergerak meski pun masuk ke gang sempit. Dalam sekali jalan, Udin bisa mengangkut 11 paket bantuan. Dalam perjalanan, ketika ia mendengar masyarakat yang butuh seperti buruh tani, Udin bergegas menyerahkan bantuan. “Kenapa saya masuk dari dapur ke dapur, karena terkadang ini sering terlupakan,” ucap dia.

Menjelang Lebaran, Udin menyalurkan beras. Satu paket dihargai hanya Rp 10 ribu per 2,5 kilogram. “Alhamdulilah ada donator yang mau menebus. Ada 100 paket dengan harga Rp 1 juta. Paket itu kemudian saya salurkan kepada orang-orang yang belum menunaikan zakat karena alasan ekonomi,” tuturnya.

Uang itu kembali dibelikan lagi beras. Bahkan, istrinya juga turut berdonasi, kemudian terdapat donator yang kembali memberikan sumbangan. Dari 100 paket sebelumnya, bertambah sehingga total menjadi 280 paket. “Yang 180 paket terakhir saya gratiskan. Sudah selesai untuk paket fitrah,” katanya.

Di tengah perjalanan, Udin sering melihat anak-anak kurang beruntung. Dari berbagai latar belakang yang orangtuanya memiliki masalah ekonomi. Akhirnya, ia mencoba memberikan bantuan pakaian Lebaran. “Saya rencanakan 50 anak. Berjalannya waktu mendapat respons dari para pedagang pakaian. Sehingga harga bisa dipres, sehingga saya naikan target 60 sampai 80 anak. Hari ini sudah sekitar 40 anak lebih,” papar dia.

Pria yang berdagang pisang goreng ini berpesan agar jangan menunggu hingga memiliki harta yang lebih. “Tetapi selagi kita masih mampu, masih bisa lakukan itu. Berbagi itu luar biasa buat saya,” tuturnya. (ali)