Kam. Jun 4th, 2020

Virus Pintar 

Anang S. Otoluwa

Oleh: Anang S. Otoluwa

VIRUS penyebab Covid-19 (Sars-CoV-2) diketahui mempunyai daya hidup 28 hari pada manusia. Mencapai puncak pada hari ke 14 setelah penularan kemudian perlahan turun dan habis pada hari ke 28. Karena itu, saat diumumkan ada pasien  terkonfirmasi positif di Banggai, orang bertanya ke saya: “Kenapa virus masih ditemukan pada mereka yang sudah 50 hari meninggalkan daerah zona merah?”Ada dua kemungkinan jawab saya. Pertama, kemungkinan virus telah mengubah sifatnya dengan melakukan mutasi DNA. Dengan perubahan itu virus bisa lebih lama daya hidupnya. Kedua, bisa jadi, meskipun jarang, orang yang positif Covid-19 itu mengalami reinfeksi. Artinya, orang tadi telah sempat bebas dari virus, tapi kemudian terinfeksi lagi. Tentu infeksi ini sudah terjadi di tempat tinggalnya sekarang. Kalau ini terjadi, maka dapat dikatakan telah terjadi transmisi lokal.

Kasus ini semakin menambah deretan bukti kalau virus ini bermutasi agar bisa beradaptasi. Sejak ditemukan di akhir tahun 2019, sudah beberapa kali terbaca, virus ini mengubah sifatnya. Semula mereka tidak bisa hidup di udara karena droplet yang mengandung virus setelah dilontarkan ketika batuk,  akan langsung jatuh karena ukurannya yang cukup besar. Kemungkinan penularan di udara pun hanya mungkin terjadi pada saat tindakan memberi lubang pada jalan napas (inhalasi). Namun belakangan, semakin hari semakin banyak hasil penelitian yang membuktikan bahwa virus bisa bertahan lama di udara. Karena itulah, maka anjuran menggunakan masker diberlakukan kepada semua yang berada di luar rumah. Tidak peduli sehat maupun sakit.

Terakhir, meski belum terbukti secara meyakinkan, sudah ada publikasi kalau virus ditemukan pada feses atau kotoran penderita. Ini yang membuat orang berspekulasi, bahwa ada kemungkinan, suatu saat virus ini bisa ditularkan melalui kotoran manusia.

Untuk apa perubahan sifat itu dilakukan oleh virus?  Tak lain untuk membuat mereka agar bertahan hidup. Disaat manusia berupaya mencari obat untuk membunuh virus, saat itu pula virus sudah merancang strategi untuk bisa kebal terhadap obat buatan manusia. Maka, sering saya katakan bahwa yang membuat seminar atau simposium itu bukan cuma manusia. Virus pun aktif melakukan pertemuan ilmiah demi menghindar dari percobaan pembasmian yang dilakukan oleh manusia. Mereka bahkan selalu berupaya mengubah sifatnya ketika berhadapan dengan lingkungan hidup yang berbeda.

Maka terjadilah adu cepat cepat antara virus dengan manusia. Ibarat polisi dan penjahat. Setiap ada cara jitu yang diciptakan oleh polisi, disaat yang sama penjahat mencari cara agar tidak bisa dilumpuhkan oleh polisi.

Menarik untuk disimak, dalam waktu kurang lebih empat bulan ini, sudah terdengar beberapa bukti keberhasilan virus melakukan perubahan sifat. Tiga contohnya saya sudah ceritakan di atas. Sementara itu, saya belum melihat keberhasilan kita manusia untuk melakukan perubahan sifat untuk menjinakkan, atau setidaknya menghindarkan dari sergapan virus.

Sejauh mana jaga jarak itu dilakukan oleh manusia? Apakah kebiasaan mencuci tangan sudah membudaya? Bagaimana dengan kebiasaan mamakai masker? Sepertinya belum berhasil. Masih banyak yang gagal menjaga jarak hanya karena godaan foto bersama. Tempat cuci tangan yang sebelumnya dilengkapi tisu dan sabun itu nampak seperti mulai terlantar karena tidak sering digunakan.  Demikian pula keharusan memakai masker. Petugas sampai harus melakukan sweeping untuk menyadarkan masyarakat agar taat memakainya. Yang sudah memakai pun masih sering mengeluh seperti sesak napas. Kadang terlihat orang membuka masker tatkala harus berbicara, padahal disaat itulah justru droplet harus ditutup agar tidak menyebar.

Karena itu, mungkin kita perlu belajar dari virus untuk bisa mengubah sifat. Virus melakukan itu dengan cerdas. Mereka melakukan perubahan itu melalui mutasi DNA. Semua kendali yang ada pada mahluk memang ada disini. Kalau DNA yang diubah, maka segala sesuatunya akan berubah dengan sendirinya. Tidak ada lagi tawar menawar. Tidak ada lagi diskusi panjang lebar. Begitu perintah dikeluarkan melalui neurotrasmitter DNA maka sistem akan bekerja secara otomatis.

Bisakah  itu kita lakukan pada manusia? Dengan rekayasa DNA misalnya? Mungkin bisa suatu saat. Tetapi itu kira-kira terjadi disaat virus sudah melakukan mutasi DNA ribuan kali. (*)